Apr
27
Pak Bustan, Guru Ngaji Ribuan Anak
April 27, 2008 |
Saya dulu bersekolah di sebuah SD kecil terletak hampir di ujung jalan pelosok Kelurahan Sepinggan, Balikpapan. Balikpapan adalah sebuah kota dengan ukuran menengah, dan menjadi pintu gerbang Kalimantan Timur. Kelurahan Sepinggan sendiri, meski di sana terdapat bandara internasional, tetap saja merupakan daerah yang nyaris terpencil.
SDN No. 046 nama sekolah saya dulu. Sebuah sekolah satu-satunya di kampung kami. Bangunannya terbuat dari kayu dan papan, berbentuk rumah panggung dengan kolong setinggi 80 cm. Saya dan teman-teman saya biasa bermain kelereng di kolong sekolah, dengan cara bertiarap di tanah agar kepala kami tidak terantuk langit-langit kolong. Baju kami pasti kotor penuh debu dan tanah setelahnya.
Ada 6 ruang kelas di sekolah kami, sebuah ruang P3K, dan sebuah kantor guru yang digabung dengan kantor kepala sekolah. Semua ruangan memiliki jendela yang lebih tepat disebut ventilasi, karena jendela-jendela itu meski berukuran besar, tidak memiliki daun jendela. Hanya ditutupi dengan jaring-jaring kawat yang selalu tampak berkarat. Akibatnya, ketika hujan yang disertai angin kencang, kami harus menyingkir dari dekat jendela agar buku-buku kami tidak basah akibat cipratan air hujan dari luar.
Sekolah kami juga tidak memiliki perpustakaan tempat kami harusnya bisa membaca buku-buku kesukaan. Namun hal yang paling saya dan kawan-kawan suka adalah meski hanya terbuat dari papan, sekolah kami tidak pernah bergoyang ketika tertiup angin kencang. Dan lapangannya sangat luas, kami dapat bermain kasti sepuas-puasnya di sana.
Guru yang mengajar berjumlah 9 orang, termasuk kepala sekolah. Di antara kesembilan guru itu, 7 orang adalah perempuan, dan 2 orang laki-laki. Enam orang di antaranya masing-masing menjadi wali kelas satu hingga kelas enam. Dan semua guru harus mampu mengajarkan semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Agama Islam karena sudah ada seorang guru khusus mata pelajaran Agama Islam di sekolah kami.
Guru Agama Islam itu bernama pak Bustan. Tidak seperti guru-guru lainnya yang semuanya sarjana, pak Bustan kabarnya hanyalah lulusan SMP. Tapi siapa yang mengira kalau beliau adalah guru paling populer se-kelurahan Sepinggan?
Konon pak Bustan diangkat menjadi guru Agama Islam sejak sekolah kami baru saja didirikan. Saat itu masih tahun 1986, dan sekolah saya masih bernama SD Inpres Sepinggan. (saya masuk sekolah ini tahun 1990). Kepala sekolah yang saat itu masih dijabat oleh pak Faisal, menawarkan pak Bustan untuk mengajar setelah mengetahui sepak terjang pak Bustan dalam mengajarkan pendidikan mengaji di kampung-kampung. (Pak Bustan memang sering mengajar ngaji keliling ke rumah-rumah, selain membuka tempat belajar mengaji di rumahnya pada malam hari). Pak Bustan dengan senang hati menerima tawaran menjadi guru itu. Dan setelahnya, beliau resmi menjadi guru Agama Islam di sekolah kami.
Ketika tahun 1990, di hari pertama saya masuk sekolah, saya diantar oleh bapak saya. Dan saya sangat ketakutan, bersembunyi di balik tas kecil saya ketika pak Bustan duduk di sebelah bapak berbincang-bincang. Perawakannya sungguh membuat saya hanya bisa tertunduk ketakutan. Kumisnya terlihat sangat tebal jika dibandingkan dengan wajahnya yang kurus dengan tulang pipi menonjol. Namun wajahnya sangat bersih. Ada warna hitam seperti bekas luka di dahinya. Saya baru mengetahui bertahun-tahun setelahnya bahwa warna hitam itu adalah bekas sujud shalat.
“Kenapa kamu takut begitu?”, tanya pak Bustan kepada saya. Saya makin ketakutan, dan tidak menyangka akan ditanya seperti itu.
Saya tidak bisa menjawab. Saya lebih memilih mengerjakan tugas matematika daripada menjawab pertanyaan itu. Namun akhirnya bapak saya yang menjawabnya, “ooh, dia belum bisa mengaji, pak. Makanya takut begitu ditanya sama guru agamanya”.
Dan pak Bustan hanya tertawa. Saya pikir beliau akan marah-marah mengetahui saya belum bisa mengaji. Ternyata beliau sangat ramah. “Nanti belajar sedikit-sedikit, ya?” katanya, sembari mengelus-elus kepalaku ramah. Saya dapat merasakan sentuhannya yang bersahabat.
Dan saya hanya mengangguk, pertanda mengiyakan.
Saya sudah mampu membaca surat-surat pendek sebelum naik kelas dua. Dan itu semua berkat kesabaran pak Bustan mengajari saya mengaji, baik di sekolah pada siang hari ataupun di rumahnya pada malam hari. Saya juga sudah mampu menghafal semua urutan wudhu, serta gerakan dan bacaan shalat ketika kelas tiga. Juga berkat ajaran beliau.
Namun beliau juga terkadang galak kepada siswa-siswanya. Pernah suatu hari saya melihatnya memarahi teman saya yang rambutnya sudah mulai panjang.
Juga suatu kali beliau melihat bawahan seragam sekolah saya yang tanpa saya ketahui secara tidak sengaja keluar dari celana saya. Sangat tidak rapi. Beliau lalu mendatangi saya, lalu mencubit perut saya dengan kedua jarinya. Ouh, sakit sekali rasanya. Sejak saat itu saya selalu memperhatikan kerapian pakaian saya, agar tidak lagi mendapat cubitan dari beliau.
Juga ketika kelas lima, saat ada tugas menghafal ayat kursi untuk pelajaran Agama Islam. Saya sudah menghafalkannya di rumah, dan merasa yakin sekali mampu melisankannya di depan kelas. Namun apa yang terjadi sungguh di luar perkiraan saya. Saya terkena demam panggung, tangan saya dingin, keringat dingin mengucur, dan jantung saya selalu berdebar. Akibatnya, saya hanya mampu menghafalkan bagian pertama dari ayat kursi itu. Dan saya harus mengulanginya lagi pekan depan.
Di pekan depannya, ternyata saya mengalami hal serupa. Begitu yakin telah menghafalkan semuanya, namun terkendala oleh masalah demam panggung. Saya harus mengulangi tugas menghafal ayat kursi ini hingga 3 pekan berturut-turut, lalu saya juga diwajibkan ikut kelas mengaji lagi di sore hari sepulang sekolah. Pak Bustan hanya bilang, “mungkin kamu sudah jarang mengaji, Mus. Dulu kamu pintar, lho. Nanti sore ikut mengaji di sini, yah?”
Saya hanya mengangguk.
Di sore harinya saya datang di kelas mengaji, menuruti anjuran pak Bustan. Ini hari pertama saya datang di kelas mengaji itu. Biasanya saya mengaji hanya saat pelajaran Agama Islam, atau di rumah pak Bustan pada malam hari. Itu pun sudah lama sekali ketika saya masih kelas satu sampai kelas tiga.
Dulu dii rumah pak Bustan saya belajar mengaji bersama 15 orang teman saya. Namun saya sungguh tidak menyangka, di kelas mengaji sore itu 3 ruang kelas sekolah terisi penuh oleh anak-anak yang belajar mengaji. Dengan 1 kelas biasanya berisi 40 orang anak, berarti seluruhnya berjumlah sekitar 120 orang. Luar biasa.
Pengajarnya juga saya pikir hanya pak Bustan seorang, namun ternyata beliau dibantu oleh 3 orang anaknya, dan beberapa kakak-kakak kelas saya yang sudah pandai mengaji. Saya sungguh terpesona oleh keadaan ini. Ini sungguh di luar perkiraan saya, dan ini membuat saya makin bersemangat untuk belajar mengaji lagi, serta mendalami pelajaran Agama Islam. Anak-anak yang lain pun pasti merasakan yang sama seperti saya saat itu.
Saya tertegun mendengarkan suara pak Bustan membacakan ayat suci Al Qur’an. Merdu sekali, padahal saya begitu sering mendengarnya mengaji dengan suara merdu yang sama setiap pelajaran mengaji di rumahnya. Suara indah itu tak pernah berubah.
Kini saya sudah berada di pulai lain untuk melanjutkan pendidikan dan melakukan beberapa pekerjaan. Sekali setahun saya menyempatkan untuk pulang kampung. Dan saat-saat itu saya manfaatkan untuk melihat-lihat sekolahku dulu. Ternyata kini sekolah saya itu sudah berganti nama sebanyak beberapa kali. Setelah SD Inpres Sepinggan, lalu SDN No. 046, menjadi SD No. 025. Dan setelah itu menjadi SD No. 012. Namun meski telah beberapa kali ganti nama, kelas mengaji sore itu masih ada di sana. Semua anak yang ikut kelas mengaji sore kini memakai seragam TPA warna pastel. Mereka terlihat sangat cantik dan ceria. Saya melihat pak Bustan berjalan di belakang barisan anak-anak itu dengan baju koko dan kopiah hitam, masuk ke dalam ruangan.
Ah, sudah berapa tahun kini sejak tahun-tahun yang lalu, saya bertanya dalam hati saya. Entah sudah berapa ribu anak pandai mengaji karena jasa beliau. Jasa yang sungguh tak pernah tergantikan oleh apa pun, kapan pun.
Saya berjalan mendekati pintu ruangan tempat beliau masuk tadi, dan berhenti beberapa meter dari pintu. Dari sana saya dapat mendengar suara merdu mengalir di udara. Suara indah itu sudah saya kenal sejak lama. Suara yang tak pernah berhenti membagi-bagikan ilmu dalam setiap keindahan alunannya.
credit :
gambar diambil dari : http://www.jakarta.go.id/